“Mandeh Bapulang” dan “Talambek Pulang”, Percakapan antara Ibu dan Anak dalam Lagu
Sepenggal Kisah dalam Lagu
Kepopuleran lagu “Talambek Pulang” pada periode tahun 2000-an
awal membuat ranah permusikan di Sumatera Barat kembali bergairah. Lagu ini
sempat populer karena dinyanyikan oleh penyanyi kondang Sumatra Barat, yaitu
Ratu Sikumbang. Tidak hanya Ratu Sikumbang, penyanyi-penyanyi lainnya juga
turut serta mempopulerkan lagu ini. Berkat kepopulerannya itu, lagu ini selalu
menjadi daftar teratas di berbagai stasiun radio dan sering juga dinyanyikan
diberbagai acara, seperti resepsi pernikahan, pentas seni hingga perlombaan
tarik suara. Sehingga tidak heran,
kebanyakan masyarakat Sumatra Barat mengenal lagu ini. berikut adalah
liriknya :
Yo mandeh, antah jo apo ka denai baleh
Kami barampek mandeh gadangkan
Jo saba hati mandeh adokan
Bareh sagantang nan ka batanakkan
Upah manuai manumbuak padi urang
Lah tibo masonyo denai pulang ka kampuang
Den japuik mandeh, den baok tabang
Paubek sakik salamoko
Kini tibo masonyo kami sanangkan
Pambakik lukah salamoko nan tabanam
Liku baliku jalan ka baruah
Sinan marantak sikudo bendi
Janjang patah, pintu lah rubuah
Den imbau mandeh indak babunyi
Artinya :
Oh ibu, entah dengan apa kami bisa membalas
Kami berempat ibu besarkan
Dengan sabar hati ibu hadapi
Beras segantang yang ibu masak
Dari upah menuai dan menumbuk padi orang
Sudah tiba masanya saya pulang ke kampung
Ku jemput ibu dan ku bawa terbang
Pengobat sakit selama ini
Kini sudah tiba masanya kami senangkan ibu
Pembangkit lukah yang selama ini yang terbenam
Berliku-liku jalan ke Baruh
Disana berlari si kuda bendi
Janjang patah, pintu telah rubuh
Ku panggil-panggil ibu, ibu tidak menjawab
Lagu “Talambek Pulang” diciptakan
oleh Imran Boer pada 1994. Lagu ini menceritakan seorang anak yang mengingat
jasa-jasa ibunya yang telah membesarkannya dan empat saudaranya. Pengorbonan si
ibu tercermin dari kerja kerasnya membesarkan anak-anaknya, walaupun harus
bekerja di sawah dan diberi upah segantang beras. Singkat cerita, anak-anak si
ibu beranjak dewasa dan memilih merantau ke negeri orang. Lama di perantauan,
terbesit keinginan si anak untuk menjemput si ibu yang tinggal di kampung
dengan harapan bisa mengobati jerih payah si ibu selama membesarkan mereka.
Tapi sayang, setibanya si anak di kampung, rumah yang mereka tempati dahulu
sudah rusak, janjang-janjang yang sudah banyak patah dan pintu yang sudah
rubuh. Sedihnya lagi, si ibu yang selama ini menunggu anak-anaknya sudah lama
berpulang kehadapan sang pencipta.
Pengalaman hidup Imran Boer menjadi
inspirasi dalam penciptaan lagu ini. Kisah hidupnya ini persis dengan yang
beliau gambarkan dalam kebanyakan lagu yang diciptakan oleh Imran, salah
satunya ialah “Talambek Pulang”. Lagu-lagu yang juga terinspirasi dari
pengalaman-pengalaman hidupnya, adalah Jikok Hari Rambang Patang (Jikalau Hari
Sudah Hampir Petang), Malang Bakapanjangan (Malang Berkepanjangan) dan
banyak lagi. Selain itu, Imran juga menciptakan lagu balasan terhadap lagu “Talambek
Pulang”. Lagu itu berjudul “Mandeh Bapulang”. Untuk mengenal lebih
jauh lagu “Mandeh Bapulang”, mari perhatikan liriknya :
Nak Kanduang,
sanangkan hati mandeh tinggakan
Sanangkan hati mandeh tinggakan
Indak do mandeh ka maupek
‘kok alun bana mambaleh jaso
Baelok-elok saiyo badunsanak
Doakan mandeh satiok sudah sumbayang
Lah tibo masonyo mandeh dijapuik tuhan
Takadia kanduang, indak malapeh
Dek bansaik juo nan mamsiahkan
Taguahkan malah hati di rantau urang
Untuang tabangkik batang tarandam
Gadang ombaknyo dipasia tiku
Awan bararak di Muko-muko
Mandeh barangkek malah dahulu
Di sarugo kanduang, kito batamu
Artinya :
Nak kandung,
Senangkanlah hati mu jikalau ibu tinggalkan
Tidaklah Ibu akan mengumpat-umpat
Walaupun dirimu belum membalas jasa-jasa ibu
Berbaik-baiklah kalian bersaudara
Doakan ibu setiap engkau sembahyang
Sudah tiba masanya ibu dijemput Tuhan
Karena takdir, Nak, yang tidak bisa dilepas
Karena miskin, kita berpisah
Teguhkan hatimu di perantauan
Semoga terbangkit batang yang terendam
Duhai besarnya ombak di Pantai Tiku
Awan beriring-iringan di Muko-Muko
Ibu berangkat dahulu,
Disurga kita bersua
Lagu ini menggambarkan pesan seorang
ibu pada anak-anaknya sebelum si ibu meninggal dunia. Makna dari lirik lagu ini
sarat akan nasehat dan harapan si ibu pada anak-anaknya. Salah satu nasehat
sang ibu yang menjadi nasihat kebanyakan ibu lainnya ialah ketika sang ibu
mengharapkan anak-anaknya mampu untuk mengubah nasib mereka yang terpuruk dalam
kemiskinan. Istilah ini digambarkan oleh Imran dalam liriknya dengan pepatah
Minangkabau, yaitu mambangkik batang tarandam. Selain itu, Imran juga
sukses menggambarkan figur seorang ibu yang rela berkorban demi anak-anaknya.
Dalam lagu ini si ibu berkata “senangkan lah hati mu, nak, walau ibu
tinggalkan,” dan “Ibu tidak akan mengumpat, walau kamu belum membalas jasa
ibu,” sangat jelas memggambarkan keikhlasan si ibu akan pengorbanan yang
dilakukannya. Diakhir lirik, si ibu mengucapkan kata perpisahan pada anaknya,
“ibu berangkat dulu, di surga kita bersua,” berhasil menutup lagu ini dengan
apik dan penuh nuansa haru.
Dialog Ibu dan Anak
Penciptaan lagu “Talambek Pulang” dan “Mandeh Bapulang” ini terpaut jauh beberapa tahun. Imran memnciptakan lagu “Talambek Pulang” pada tahun 1994, sedangkan “Mandeh Bapulang” diciptakan oleh Imran pada tahun 2009. Walaupun begitu, sejatinya dua lagu ini memiliki keterkaitan satu sama lain. Berdasarkan paparan dai Imran Boer, alur dari dua lagu ini bermula dari lagu “Mandeh Bapulang” yang berisi pesan-pesan si ibu pada anaknya. Dilanjutkan oleh lagu “Talambek Pulang” yang berisi ungkapan kerinduan si anak pada ibunya, namun tanpa sepengetahuan si anak, si ibu sudah lama mendahuluinya. Sederhananya, penciptaan lagu “Talambek Pulang” memang lebih dahulu dari “
Mandeh Bapulang”, tetapi alur cerita yang disajukan oleh dua lagu ini dimulai terlebih dahulu oleh “Mandeh Bapulang”.
Hal itu juga dapat dilihat dari
beberapa lirik yang terdapat dari dua lagu itu. Lirik ”janjang patah, pintu
lah rubuah” menunjukkan bahwa rumah sepeninggalan si ibu sudah lama tidak
berpenghuni, ditambah dengan lirik selanjutnya, “den imbau mandeh indak
babunyi,” juga menandakan bahwa rumah si ibu sudah lama kosong. Penyebab
kosongnya rumah si ibu dibahas pada lirik lagu mandeh bapalang, yaitu “sanangkan
hati mandeh tinggakan” dan ”mandeh barangkek malah dahulu.” Dapat
disimpulkan bahwa si anak datang ketika si ibu sudah lama meninggal.
Percakapan antara ibu dan anak juga
terdapat dibeberapa lirik lainnya. Keinginan anak yang ingin membalas jasa si
ibu yang rela berkorban demi membesarkan mereka tergambar jelas dalam lirik “Talambek
Pulang”, yaitu ”kini tibo masonyo kami sanangkan, pambangkik lukah
salamoko nan tabanam,” dan dibalas oleh pesan sang ibu yang walaupun mereka
belum sempat mebalas jasa si ibu, si ibu tidak marah sedikitpun pada si anak,
tergambar dalam lirik, “indak ‘do mandeh ka maupek, kok alun bana mambaleh
jaso.” Dari lirik ini tergambar jelas percakapan antara ibu dan anak,
walaupun keduanya tidak secara langsung berdialog satu sama lainnya.
Penutup
Imran
berhasil menarik perhatian penikmat musik Minang dengan lagu-lagu ciptaannya
ini. Lagu “Talambek Pulang” menjadi salah satu lagu Imran yang banyak
dikenal oleh masyatakat Sumatra Barat. Sayangnya, walaupun “Talambek Pulang”
dan “Mandeh Bapulang” terkait satu sama lainnya, “Mandeh Bapulang”
tidak memiliki kepopuleran sebesar “Talambek Pulang”. Hal ini
dikarenakan penciptaan lagu “Mandeh Bapulang” ini terpaut sangat jauh
dengan lagu “Talambek Pulang”, yaitu lima belas tahun. Dapat disimpulkan
juga bahwa selera musik masyarakat yang berubah dari tahun ke tahun juga
berubah seiring berjalannya waktu. Sehingga, lagu “Mandeh Bapulang” ini
tidak sepopuler lagu “Talambek Pulang” yang populer karena didukung oleh
“jiwa zamannya” pada tahun 90-an.
“Mandeh Bapulang” dan “Talambek
Pulang” ini merupakan aset kesenian modern yang dimiliki oleh Sumatra Barat
yang wajib dijaga dan dilestarikan agar tidak tenggelam dalam kepopuleran
lagu-lagu populer dalam negeri atau luar negeri. Keindahan lagu ciptaan Imran
Boer ini perlu kembali diperdengarkan pada generasi muda maupun tua Sumatera
Barat agar mereka tahu bahwa lagu-lagu Minang tidak kalah indahnya dengan
lagu-lagu yang sedang populer sekarang.
Referensi
Irpan. Tokoh dan
Ketokohan Imran Boer Sebagai Musisi Lagu Minang 1983-2011. Skripsi. Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu
Pendidikan (STKIP) PGRI Sumatra Barat. 2018. Diakses dari repo.stkip-pgri-sumbar.ac.id/id/eprint/86/
Komentar
Posting Komentar