LOGIKA MISTIKA DALAM KEBUDAYAAN MASYARAKAT INDONESIA
LOGIKA MISTIKA DALAM KEBUDAYAAN MASYARAKAT INDONESIA
Penulis
: Yogi Hendrawan
Indonesia adalah
negara yang kaya akan kebudayaan. Negara yang memiliki banyak etnis, suku, ras
dan agama ini acap kali mengalami akulturasi dan asimilasi antar budaya yang melahirkan
kebudayaan baru. Hal tersebut menambah daftar kekayaan budaya di indonesia.
Tiap-tiap budaya memiliki ciri khasnya tersendiri. Budaya Jawa berbeda dengan
budaya Sumatera, budaya timur berbeda dengan yang ada di barat.
Dibalik
perbedaan, pastinya ada persamaan. Seluruh kebudayaan di dunia bahkan memiliki
unsur-unsur yang sama dalam peradaban mereka. Terdapat tujuh unsur universal
kebudayaan yang membangun kebudayaan itu sendiri, salah satunya adalah
kepercayaan. Begitu pula halnya dengan kebudayaan yang ada di Indonesia.
Masing-masing kebudayaan memiliki pemikiran bahwa adanya kekuatan besar diluar
manusia yang mengatur dan mengawasi segala aktivitas kehidupan, bisa berupa
dewa, roh nenek moyang, hantu, demit, lelembut, setan, iblis, roh, malaikat,
Tuhan dan sebagainya.
Sistem
kepercayaan sendiri mempengaruhi pola pikir masyarakat. Hal positifnya ialah menjadikan
masyarakat Indonesia hidup dalam norma dan nilai-nilai kebaikan. Namun,
masyarakat indonesia terlalu nyaman dengan sistem kepercayaan ini dan timbullah
dampak negatif. Kepercayaan seakan menjadi candu yang merusak pemikiran
masyarakat dan menjadikan ilmu pengetahuan terhambat untuk berkembang karena
pemikiran masyarakat hanya terpaku kepada bagaimana menghalau setan dan meminta
bantuan jin dengan menyajikan sesajen di bawah pohon besar.
Tan
Malaka pernah berkata dalam bukunya yang berjudul Aksi Massa, “Tetapi kamu orang Indonesia yang
55.000.000 tak kan mungkin merdeka selama kamu belum menghapuskan segala
‘kotoran kesaktian’ itu dari kepalamu, selama kamu masih memuja kebudayaan kuno
yang penuh dengan kepasifan, membatu, dan selama kamu bersemangat budak belia,”
Kotoran kesaktian yang dimaksud disini adalah pemikiran yang masih mempercayai
takhayul ( mistik ). Masyarakat percaya pada ramalan-ramalan yang terdapat
dalam berbagai kitab-kitab kuno, takhayul, dan folklore yang menceritakan penyelamat indonesia kelak. Masyarakat
cenderung menunggu siapa penyelamat itu tanpa menyadari bahwa penyelamat itu datang
dengan adanya kemauan, kemampuan dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan.
Bahkan, untuk hal-hal kecil pun, ambil saja contohnya tentang kesehatan,
masyarakat lebih percaya bahwa ini adalah kemarahan hantu atau jin dan
sejenisnya, tanpa mencari penyebab logis terjadinya. Hal ini yang membuat
masyarakat indonesia bisa dikuasai oleh bangsa asing yang mana jumlah
penduduknya tak sebanyak penduduk Pulau Jawa.
Tokoh-tokoh bangsa yang lahir di
masa pergerakan nasional dibesarkan oleh kebudayaan ini. Tetapi mereka berusaha
membuang jauh-jauh pemikiran “kotoran kesaktian” itu jauh-jauh. Mereka sadar
bahwa penyelamat yang diramalkan itu tak akan kunjung datang apabila menunggu
sambil menyajikan sesajen di tepi pantai, kaki gunung ataupun di bawah pohon
beringin besar yang hampir tumbang. Kesadaran itu membawa mereka menuju
alam ilmu pengetahuan yang dipenuhi
cahaya terang benderang yang mampu menjawab keluh kesah mereka selama ini. Pada
akhirnya, dengan ilmu pengetahuan yang mereka miliki itu, mereka mampu membawa
Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia.
Muncul pertanyaan,”apakah masyarakat
Indonesia sudah mampu membuang pemikiran ‘kotoran kesaktian’ ini? Jawabannya
adalah belum. Sukarno pun menyadari ini. Tak jarang dalam propagandanya
sendiri, beliau sering menghubung-hubungkan antara mitos dengan
dirinya sendiri. beliau memanfaatkan hal ini demi menyulut semangat masyarakat untuk
menentang penjajah. Apakah beliau bisa memanfaatkan peluang itu apabila ia
tidak memiliki ilmu pengetahuan yang logis? Saya rasa tidak.
Kebiasaan ini masih melekat dalam
kehidupan masyarakat sampai sekarang. Contohnya ialah mitos tentang Presiden
yang hanya dari orang Jawa saja. Padahal, mitos ini dapat dijawab secara
logika. Pulau Jawa memiliki populasi penduduk terpadat di Indonesia, dan pusat
perekonomian serta pergolakan politik pun mayoritas diwarnai oleh orang-orang
Jawa. Tak menutup kemungkinan Presiden itu berasal dari orang Jawa apabila
ditinjau dari faktor-faktor yang telah disebutkan tadi.
Kebiasaan berlogika mistika seperti
ini tidak akan hilang apabila masyarakat Indonesia belum mampu berlogika secara
rasional yang berdasarkan pada ilmu pengetahuan.. Perubahan dan mental yang
siap lah yang mampu mewujudkan masyarakat Indonesia yang logis dan cerdas.
Tatapi, apabila cita-cita ini terwujud, ingatlah selalu pesan Tan Malaka ini,
“janganlah tersesat dalam menganggungkan dan menunggalkan logika itu dengan
tidak mengenal batas dan kelemahannya.” ( Tan Malaka, Madilog.)
Daftar Pustaka
Adams, C. (2018). Bung Karno : Penyambung Lidah Rakyat
Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Bung Karno.
Malaka, T. (2013). Aksi Massa. Yogyakarta: Narasi.
Malaka, T. (2019). Madilog. Yogyakarta: Narasi.
Sitompu, M. (2020, Mei 12). Tan Malaka dan Logika Mistika
Kaum Sebangsa. Retrieved September 2020, 2020, from Historia.id:
https://historia.id/politik/articles/tan-malaka-dan-logika-mistika-kaum-sebangsa-P4nAm

Komentar
Posting Komentar